Kita mengira akan selalu mengingat
Chapter 02 of Work Identity: professional memory, fading traces of work and fragmented data.
Kita mengira akan selalu mengingat
Ada sesuatu yang menarik tentang pekerjaan.
Saat menjalaninya, kita mengira akan selalu mengingat.
- Proyek pertama.
- Pertama kali seorang klien mempercayai kita.
- Produk pertama yang benar-benar digunakan.
- Malam-malam tanpa tidur.
- Kegagalan yang pernah dialami.
- Dan orang-orang yang memulai bersama kita.
Ingatan tidak bekerja seperti yang kita bayangkan
Namun ingatan tidak bekerja seperti yang kita bayangkan.
Ia tidak hilang dalam satu hari. Ia memudar perlahan seiring waktu.
Pada akhirnya, kita hanya mengingat hasilnya. Dan melupakan perjalanannya.
Jejaknya semakin sedikit
Hal yang sama terjadi pada pekerjaan.
Bukan karena pekerjaan itu kehilangan nilainya. Melainkan karena jejaknya semakin sedikit.
- Tautan terhapus.
- Kata sandi sebuah akun terlupakan.
- Hard disk lama tidak lagi dapat dibuka.
- Sebuah perusahaan berganti nama.
- Sebuah situs berhenti beroperasi.
- Sebuah ponsel tidak lagi menyimpan foto-foto dari hari pertama.
Ia menghilang dalam diam
Tidak ada satu momen besar yang menandai bahwa sebagian perjalanan karier baru saja hilang.
Ia hanya menghilang dalam diam. Sedikit demi sedikit.
Mungkin bagian paling rapuh dari pekerjaan bukanlah keberhasilan. Melainkan ingatan tentang bagaimana kita menciptakan keberhasilan itu.
Zaman dengan penyimpanan terbanyak
Kita hidup pada zaman yang menyimpan lebih banyak daripada masa mana pun dalam sejarah.
Setiap hari, miliaran foto dibuat. Jutaan dokumen diunggah. Jutaan profil diperbarui.
Semua seolah dapat disimpan. Namun semakin banyak tempat untuk menyimpan, semakin sulit kita mengetahui harus mencari ke mana.
Segalanya berada di tempat berbeda
- Sebuah proyek ada di Drive.
- Sebuah tulisan ada di Medium.
- Sebuah desain ada di Behance.
- Sepotong kode ada di GitHub.
- Sebuah sertifikat ada di email.
- Sebuah pemikiran ada di LinkedIn.
- Sebuah pujian ada di kotak pesan.
- Sebuah kesempatan yang pernah datang… tinggal dalam ingatan.
Tidak ada tempat yang salah. Namun tidak ada satu pun yang dapat menceritakan seluruh kisah.
Setiap platform hanya melihat sebagian dari diri Anda
Setiap platform hanya melihat sebagian dari diri Anda.
Seperti banyak orang yang berdiri mengelilingi sebuah pohon. Masing-masing merasa telah melihatnya. Namun tidak seorang pun melihat keseluruhannya.
Menghubungkan data menjadi sebuah kisah
Mungkin masalahnya bukan karena kita kekurangan data.
Kita hanya belum memiliki cara untuk menghubungkan data itu menjadi sebuah kisah yang bermakna.
Seseorang adalah sebuah kisah
Dan mungkin…
Seseorang seharusnya dipahami sebagai sebuah kisah. Bukan sebagai kumpulan berkas.