Bisakah kamu memperkenalkan dirimu?
Chapter 04 of Work Identity: the limits of CVs and summaries, and the need for a deeper professional story.
Bisakah kamu memperkenalkan dirimu?
Mungkin kamu pernah merasakan hal ini.
Seseorang bertanya: “Bisakah kamu memperkenalkan dirimu?”
Kamu terdiam beberapa detik.
Bukan karena kamu belum melakukan cukup banyak. Melainkan karena kamu tidak tahu harus mulai dari mana.
Terlalu banyak hal untuk diingat
- Proyek-proyek.
- Para klien.
- Kegagalan.
- Produk-produk.
- Malam-malam tanpa tidur.
- Keputusan yang mengubah arah karier.
Namun pada akhirnya… kamu hanya mengirim sebuah PDF.
Sebuah PDF tidak dapat menceritakan seluruh kisah
Bukan karena PDF itu menceritakan seluruh kisah.
Melainkan karena hanya itulah cara yang diajarkan kepada kita untuk bercerita.
- Satu halaman.
- Dua halaman.
- Beberapa bullet point.
- Beberapa angka.
- Beberapa keterampilan.
- Beberapa perusahaan.
Lalu kita menyebutnya… “memperkenalkan diri.”
Yang aneh, tak seorang pun menganggapnya aneh
Yang aneh adalah…
Tak seorang pun menganggap hal itu aneh.
Coba bayangkan
Coba bayangkan.
Kamu membaca sebuah buku. Namun hanya boleh membaca halaman terakhir.
Kamu menonton sebuah film. Namun hanya boleh melihat bagian pembuka.
Kamu bertemu seseorang. Namun hanya diberi tahu tonggak-tonggaknya.
Mengetahui apa yang mereka lakukan belum cukup
Mungkin… kamu masih tahu apa yang telah mereka lakukan.
Namun kamu tidak akan pernah memahami… mengapa mereka melakukannya.
Sebuah ringkasan tetap memiliki nilai
Sebuah ringkasan tetap memiliki nilai.
Ia membantu orang lain melihat dengan cepat. Namun tidak membantu mereka melihat lebih dalam.
Masalahnya tidak pernah berada pada ringkasan itu sendiri.
Kita mengira ringkasan adalah seluruh kisah
Masalahnya adalah… kita mengira ringkasan itu sebagai seluruh kisah.
Mungkin…
Seseorang tidak seharusnya dikenang sebagai sekumpulan bullet point. Sama seperti sebuah buku tidak dapat digantikan oleh daftar isinya.