Forwork

Untuk Hal-Hal yang Terus Kukatakan “Nanti”

Bab 7 Surat untuk Diriku Sendiri: tentang kebiasaan menunda hal penting, perbedaan urgent dan important, serta kenyataan bahwa banyak kesempatan biasa sebenarnya terbatas.

Untuk diriku yang dulu, diriku hari ini, dan diriku yang mungkin akan menjadi
01

“Nanti” jarang terdengar seperti keputusan besar

Kita jarang berkata: aku memilih mengabaikan hal penting ini. Kita hanya berkata: nanti. Telepon nanti. Pergi nanti. Istirahat nanti. Belajar nanti. Bilang terima kasih nanti.

Karena terdengar tidak berbahaya, kata itu bisa berulang bertahun-tahun tanpa terasa seperti pilihan. Padahal penundaan tetaplah pilihan.

Keputusan besar kadang bersembunyi di dalam kata kecil: nanti.
02

Urgent dan Important hidup di jam yang berbeda

Pekerjaan punya deadline. Tagihan punya tanggal jatuh tempo. Pesan punya notifikasi. Rapat punya jam mulai. Hal mendesak tahu cara meminta perhatian.

Orang yang kita sayangi tidak selalu punya deadline. Persahabatan tidak mengirim alarm saat memudar. Hobi tidak mengingatkan berapa lama kita meninggalkannya. Hal penting sering lebih sunyi.

Yang mendesak menuntut perhatian. Yang penting sering hanya menunggu untuk diingat.
03

Ada hal yang tidak mendesak, tetapi terbatas

Masa tinggal bersama keluarga. Teman yang masih satu kota. Tim yang mungkin hanya bersama beberapa tahun. Tubuh yang sekarang masih mampu melakukan sesuatu. Jalan familiar yang suatu hari mungkin bukan lagi jalan kita.

Kita tidak perlu hidup dengan takut kehilangan. Tetapi keterbatasan adalah bagian dari hidup. Sesuatu tanpa deadline tetap bisa punya akhir.

Ada hal yang tidak mendesak, tetapi terbatas.
04

Pekerjaan selalu bisa menciptakan lebih banyak pekerjaan

Kita sering berkata: setelah fase ini selesai, aku akan punya waktu. Tetapi pekerjaan jarang benar-benar berakhir. Satu project membuka project lain. Satu target melahirkan target berikutnya. Peran yang lebih besar membawa tanggung jawab baru.

Jika hal penting hanya boleh terjadi setelah pekerjaan benar-benar tenang, ia mungkin menunggu sangat lama.

Jika yang penting selalu menunggu di belakang sesuatu yang tak pernah benar-benar selesai, ia akan selalu tertinggal.
05

Sebagian kesempatan tidak hilang — bentuknya berubah

Kamu mungkin masih bisa bepergian nanti, tetapi bukan dengan orang yang sama dalam musim yang sama. Kamu masih bisa menelepon seseorang, tetapi percakapan itu tidak terjadi di bab hidup yang sama. Kamu masih bisa belajar skill itu, tetapi memulainya nanti akan terasa berbeda.

Tidak semua jendela tertutup total. Tetapi waktu mengubah tekstur pengalaman. “Masih bisa” tidak selalu berarti “masih sama.”

Ada hal yang tetap mungkin, sementara versi pengalaman yang dulu bisa kita jalani sudah hilang.
06

Ini bukan ajakan meninggalkan tanggung jawab dan hidup impulsif

Menyadari keterbatasan bukan berarti bertindak sembrono. Kita tetap butuh kerja, rencana, tabungan, tanggung jawab dan kemampuan berkata tidak. Hidup hanya mengikuti perasaan sesaat juga bisa mengabaikan masa depan.

Yang ingin dijaga adalah proporsi. Jangan biarkan semua yang punya deadline selalu menang atas semua yang punya makna hanya karena lebih berisik.

Hidup sadar bukan memilih masa kini melawan masa depan. Ia adalah tidak membiarkan masa depan memakan seluruh masa kini.
07

Kita mungkin perlu menjadwalkan hal yang tidak punya deadline sendiri

Jika sebuah telepon penting, taruh di kalender. Jika waktu bersama seseorang penting, ubah keinginan menjadi waktu nyata. Jika sesuatu yang berarti terus mundur, perlakukan sebagai komitmen, bukan hadiah setelah pekerjaan selesai.

Kadang nilai yang lembut membutuhkan struktur yang keras. Hal penting tidak seharusnya hidup dari sisa waktu saja.

Yang penting perlu tempat di kalender, bukan hanya di hati.
08

Untuk hal-hal yang terus kukatakan “nanti”

Aku tahu aku menunda bukan karena tidak peduli. Kebanyakan karena aku mengira punya lebih banyak waktu daripada yang sebenarnya. Aku menganggap orang akan tetap ada, kesempatan tetap sama, dan ruang kosong sempurna akan datang.

Sekarang aku mengerti ruang sempurna itu mungkin tidak muncul sendiri. Ada hal yang harus dipilih selagi masih ada, bukan karena besok pasti hilang, tetapi karena besok pasti berbeda.

Aku tetap akan bertanggung jawab, bekerja, merencanakan, dan menunda yang memang perlu ditunda. Tetapi aku tidak ingin semua yang tidak punya deadline menjadi sesuatu yang kutunda selamanya.

Jangan biarkan hal terpenting dalam hidup hanya hidup dari sisa waktu.