Jangan Mulai dari Produk
Produk bukan titik awal. Kesulitan manusia adalah titik awal.
Start With the Human — Jangan mulai dari produk. Mulailah dari manusia.
Feature sering muncul sebelum problem
Banyak product dimulai dari technology baru, feature tren, competitor atau keinginan untuk menambah sesuatu.
Product lalu mencari alasan untuk ada, bukan problem untuk dipahami.
A feature looking for a problem is still a problem.
“Apa yang bisa kita build?” bukan pertanyaan pertama
Technical possibility menarik, tetapi kemampuan membuat sesuatu tidak berarti manusia membutuhkannya.
Need harus datang sebelum excitement terhadap solution.
Technical possibility is not human necessity.
Product harus dimulai dari manusia yang sedang mencoba melakukan sesuatu
Sebelum product ada human intention: menyelesaikan, memahami, berbagi, memutuskan atau melindungi sesuatu.
Intention yang jelas memberi product anchor.
Start with the human trying to do something.
Problem yang layak harus ada sebelum solution
Jika solution datang dulu, team mudah mencari pain point untuk membenarkannya.
Problem yang dipahami secara mandiri membuka kemungkinan feature, process atau bahkan tidak build apa pun.
A real problem remains real even when your favorite solution disappears.
Human difficulty adalah source material product
Di mana orang kehilangan waktu, mengulang pekerjaan, kehilangan clarity atau control?
Friction itu adalah raw material product thinking.
Product begins where unnecessary human difficulty becomes visible.
Tidak semua inconvenience butuh product
Kadang copy, default, removal, automation ringan atau perubahan process sudah cukup.
Lebih banyak feature tidak selalu berarti lebih sedikit human burden.
Not every problem deserves more software.
Product muncul setelah problem cukup jelas
Observation, behavior, friction, need, principle, system, lalu product.
Urutan ini menjaga solution tidak lebih cepat dari understanding.
Human → Behavior → Friction → Need → Principle → System → Product.
Untuk diriku sebelum memutuskan build
Aku ingin bertanya siapa yang kesulitan, karena apa, dan sedang mencoba melakukan apa.
Jika belum tahu, mungkin yang kurang bukan product melainkan understanding.
Do not ask what else we can build. Ask what no longer needs to be difficult.